Manajemen Pemuliaan Ternak

Diposting oleh Tiyo pada 01:58, 17-Jul-11

 MANAJEMEN PEMULIAAN TERNAK

Saat ini peternakan semakin bertambah pesat dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya protein hewani seperti telur dan daging, salah satu usaha peternakan yang telah memasyarakat dan sudah tersebar diseluruh pelosok nusantara adalah unggas lokal (ayam buras, itik dan burung puyuh). Ayam buras memiliki peranan yang cukup besar dalam mendukung ekonomi pedesaan. Dibandingkan dengan ayam ras, ayam buras mempunyai banyak kelebihan antara lain kemampuan daya adaptasi terhadap lingkungan yang sangat baik, produktivitas tinggi, mudah dalam pemeliharaan serta relatif lebih tahan terhadap penyakit.

Salah satu potensi ekonomis unggas adalah produksi telur. Tinggi rendahnya produksi telur diduga memiliki keragaman genetik yang berbeda karena produktivitas suatu ternak tergantung pada faktor lingkungan dan genetik. Hal ini sangat penting untuk peningkatan mutu genetik ternak dan dapat membantu dalam seleksi ternak yang produktif dan ternak yang tidak produktif.

Keragaman genetik merupakan salah satu dasar untuk mengetahui tingkat perubahan nilai keberhasilan seleksi dalam suatu populasi dan dapat pula digunakan dalam penentuan asal-usul ternak. Keragaman genetik dapat dilihat dengan menggunakan karakter alel dari suatu lokus tertentu yang berasal dari cairan atau jaringan tubuh seperti darah, putih telur, dan kuning telur.

Darah dan putih telur memiliki lokus protein yang berbeda. Lokus protein yang terdapat pada darah antara lain pre-albumin, albumin, pre-tranferin, transferin dan hemoglobin (Warwick et al., 1990) sedangkan lokus yang terdapat pada putih telur antara lain ovalbumin, conalbumin dan lisozim (Meyer et al., 1960) dan masih banyak lagi lokus-lokus yang lain. Dari uraian diatas dapat dijelaskan bahwa darah dan telur merupakan potensi yang berbeda dari segi kandungan protein didalamnya, tetapi sama-sama dapat digunakan untuk menentukan keragaman genetik. Oleh karena itu perlu dicari bukti empiris mengenai perbedaan keragaman genetik yang dilihat dari protein darah maupun putih telur serta keragaman genetik antara produksi telur tinggi dan produksi telur rendah dalam suatu populasi.

Perkembangan IPTEK cukup cepat khususnya dalam bioteknologi sel binatang. Dari awal penemu sel pertama kali Robert Hooke dari Inggris tahun 1665 dengan menggunakan mikroskop yang sangat sederhana, maka dimulailah perkembangan sel bagi kehidupan mahluk hidup. Bagian yang penting sel bukanlah dinding selulosa (Robert Hooke) tetapi isi dari sel tersebut. Pada tahun 1839 oleh Purkinye memperkenalkan protoplasma bagi zat hidup dari sel. Sekarang ini dengan perkembangan IPTEK maka isi sel yang hidup merupakan suatu sistem yang komplek. Materi yang disajikan dalam bab ini meliputi perkembangan sel dan aktivitasnya meliputi  kultur sel, membran plasma, nukleus dan fungsinya, organel sitoplasma, struktur sel, dan selaput sel.

Kemajuan di bidang genetika, biologi sel dan molekuler, khususnya teknologi DNA Rekombinan telah memberikan peluang baru dalam memanipulasi genom organisme untuk mewujudkan berbagai keinginan pemulia. Diharapkan upaya ini memberikan dampak signifikan bagi perbaikan sifat organisme melalui :

  1. Melengkapi aktivitas pemulia dalam memperluas dan diversifikasi kumpulan gen (“gene pool”) organisme
  2. Mengintroduksi gen-gen spesifik yang tidak tersedia pada kumpulan gen yang kompatibel secara seksual.

Perbaikan sifat organisme melalui teknik DNA rekombinan didasarkan pada manipulasi molekuler gen-gen yang relevan dan tersedianya vektor untuk transformasi ke dalam sel organisme tersebut. Teknologi ini menawarkan berbagai metode untuk isolasi, manipulasi, dan ekspresi gen-gen dalam jaringan tertentu pada tingkat yang diinginkan.

Perkembangan sistem transfer gen ke dalam organisme, yaitu dengan mengintroduksi gen-gen asing ke dalam sel organisme dan meregenerasikannya menjadi organisme hidup dan fertil telah membuka kesempatan dalam upaya memodifikasi dan memperbaiki sifat-sifat organisme. Namun karakterisasi dengan tepat terhadap sifat-sifat yang diunggulkan merupakan langkah penting dalam menjamin keberhasilan penggunaan teknologi DNA rekombinan

Teknologi unggas transgenik sangat bermanfaat untuk menciptakan modifikasi sifat produksi pada pemuliaan unggas, biopfarmasi (penghasil protein farmasi dalam telur) dan penyelidikan terhadap gen yang mempengaruhi perkembangan vertebrata. Teknologi transgenik juga sangat menjanjikan untuk pengembangan  ayam yang tahan penyakit seperti yang telah sukses dilakukan pada tanaman.

Dibidang pengobatan, biofarmasi unggas tampaknya sangat efisien untuk memproduksi protein terapi karena :

-    Biaya yang rendah, waktu regenerasi yang pendek, dan mudah di tangani.

-    Telur yang secara alami telah steril.

-    Jumlah protein yang dihasilkan sangat besar.

-    Jumlah telur pertahun yang dihasilkan sangat banyak.

Sedangkan untuk riset dasar unggas transgenik dapat digunakan untuk :

-    Penelitian tentang gen yang terlibat dalam perkembangan vertebrate.

-    Sebagai model untuk pengembangan penelitian dibidang biologi.

Kebutuhan biofarmasi terhadap protein glikosilat yang terlipat dalam struktur 3D tertentu dengan cepat meningkat, begitu juga kebutuhan dibidang farmasi pada manusia. Dibandingkan dengan mamalia, pola glikosilasi pada beberapa protein ayam lebih serupa dengan manusia.

Banyak dari protein tersebut dengan susunan asal di produksi terutama dengan kultur sel mamalia in vitro.  Namun demikian rendahnya hasil yang diperoleh dan biaya yang tinggi mendorong sistem produksi protein rekombinan untuk menggunakan hewan/ternak transgenik  sebagai bioreaktor. Kelenjar susu merupakan bioreaktor yang menjanjikan karena potensi produksi susunya yang tinggi dan telah menghasilkan beberapa protein farmasi di dalam air susu pada beberapa jenis ternak transgenik. Walaupun demikian terdapat kelemahan kelenjar susu sebagai bioreaktor, yaitu lamanya interval generasi dan  kesulitan dalam memurnikan protein rekombinan yang dihasilkan karena rumitnya biokimia lemak dan protein susu.

Penggunaan induk ayam dapat memecahkan masalah tersebut, disamping kelebihanya yang lain yaitu interval generasi yang pendek (ayam menjadi dewasa pada umur 20 minggu), biaya yang rendah dan  tingkat kesuburannya tinggi. Pemurnian protein rekombinan juga lebih mudah karena biokimia protein putih telur tidak serumit dibandingkan protein susu. Fraksi albumin telur terdiri dari 3,5-4 gram protein dan ovalbumin menyusun lebih dari setengah bagian protein tersebut.

Keberadaan inhibitor protease alami dalam telur dan kondisi steril di dalam telur juga memberikan lingkungan yang ideal untuk menstabilkan aktivitas biologis protein asing dan memungkinkan penyimpanan dalam jangka waktu lama tanpa kehilangan aktivitas biologisnya.



sumber:http :// staff.undip.ac.id/fp/seno_johari/2010/07/22/materi-kuliah-manajemen-pemuliaan-ternak

sbo468.gif

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Tulislah komentar pertama!

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar